Namun dibalik itu, negeri ini juga punya banyak masalah, salah satunya energi. Sebagai negara berkembang, kebutuhan akan energi juga tidak dapat dikesampingkan. Buktinya PLN sebagai perusahaan listrik negara, terus menerus memperbaiki produksi energi listriknya yang hingga saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh rakyat Indonesia. Sumber energi yang digunakan berasal dari batu bara, minyak bumi, panas bumi dan air. Meskipun kemudian berkembang pengembangan energi nuklir, yang kemudian menimbulkan pro-kontra dikalangan masyarakat.
Sebagian besar sumber energi PLN berasal dari petroleum, yaitu bahan baku yang diolah berasal dari minyak bumi. Sebagai seorang mahasiswa magister kimia, saya rasa sudah saatnya PLN mencari sumber energi lain yang tidak hanya mengandalkan sumber yang berasal dari dalam perut bumi. Karena pada dasarnya, mereka yang ada didalam perut bumi memang selayaknya berada disana. Ketika ia ditempatkan tidak pada tempatnya (permukaan bumi), ia akan merusak keseimbangan ditempat baru tersebut. Salah satunya adalah dengan mengembangkan oleoleum, yaitu bahan baku yang berasal dari minyak nabati.
Bukankah dipermukaan banyak juga energi lain yang saat ini belum tergarap... Apalagi Indonesia merupakan negara terbesar potensi dalam menyumbang minyak nabati (oleoleum) dunia, yaitu sebesar 40%! Masih berada diatas Amerika Serikat dan Prancis, yang gabungan keduanya hanya sekitar 30%. Salah satu sumber oleoleum di Indonesia adalah tanaman tengkawang. Tanaman ini telah diketahui memiliki kandungan trigliserida dengan kandungan asam stearat sebesar 90%, terbesar dibandingkan sumber lain diseluruh Indonesia. Tanaman lain selain tengkawang adalah sawit, yang saat ini tanamannya sudah berkembang pesat khususnya di Kalimantan.
Memang saat ini memang sudah ada pemanfaatan energi non-petroleum. Tapi toh pengembangan dan pemanfaatannya tidak terlalu gencar dan serius. Melalui tulisan ini, harapanku untuk PLN adalah untuk dapat menjadi motor dalam pengembangan dan pemanfaatan energi alternatif, baik dengan melibatkan ahli maupun mahasiswa. Bukankah banyak juga mereka yang memiliki ide tapi tidak punya kesempatan untuk mengembangkannya...?